Category: Artikel

Esensi Keimanan

Esensi Keimanan
Oleh : Ibrohim El Hasbi
Kata iman berulang dan berulang kita dengar dan baca. Ia merupakan salah satu rukun agama yang yang harus menjadi perhatian untuk kita semua. Apabila merujuk pada kamus bahasa Indonesia, kata iman diartikan percaya atau yakin. Sedangkan apabila ditinjau dari definisi istilah, sebagian ulama mengartikan iman dengan tashdiqun bil qalbi, wataqrirun bil lisan wata’malun bil arkan. Diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Dengan demikian, maka iman tidak cukup kita ucapkan saja, melainkan harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Setiap orang beriman harus menunjukkan tiga dimensi sebagai aktualisasi dari keimannya, yaitu meyakini, mengatakan dan melakukan.
Apabila merujuk pada hadits, dimana Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “ahbirni anil iman?”
Rasul menjawab, “an tu’mina billahi, wamalaikatihi, wakutubuhi, warusulihi, wal yaumil akhiri, wabiqadrihi khairihi wasyarrihi”. Iman itu ialah mempercayai Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat, dan ketentuan dari Allah Subhanahu Wa Taala, baik itu takdir baik maupun buruk.
Selanjutnya, bagi orang yang beriman di samping dia meyakini, mengatakan, dan mengamalkan terdapat indikator-indikator yang menunjukkan bahwa dirinya sebagai pribadi mukmin. Hal tersebut misalnya diterangkan Allah dalam Alquran surah Al Anfal ayat 2-4, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (2) [yaitu] orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki [ni’mat] yang mulia.” (4). (QS Al-Anfal [8]: 2-4), dan QS Al Muminun 1-11,

Dari keterangan surah al anfal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi orang-orang yang iman itu terdapat beberapa indicator, 1) apabila disebut nama Allah, maka hatinya bergetar. Ia takut, sadar, pasrah bahwa dirinya memang hanyalah milik Allah SWT, 2) apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanannya, 3) ia hanya bertawakal (memasrahkan segala urusannya kepada Allah semata. Orang tawakal tidak pernah putus asa. Pun ia sadar bahwa segala ketentuan hidupnya sudah digariskan oleh Allah swt. 4) senantia mendirikan shalat dalam keadaan apapun, dan 5) selalu berusaha untuk menginfakkan sebagian dari harta yang dimilikinya.
Nah, bagi orang-orang yang beriman seperti yang digambarkan di atas, meraka akan dimulyakan oleh Allah derajanya, rizki dan nikmatnya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Selanjutnya, dalam al quran surah al mukminun Allah menyebutkan pula indicator-indikator otang mukmin yang sejati;
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (1), (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya (2), dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna (3) dan orang yang menunaikan zakat (4), dan orang yang memelihara kemaluannya (5), kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela(6), Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (7), Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya (8), serta orang yang memelihara shalatnya (9), Mereka itulah orang yang akan mewarisi (10), (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11).”

Orang beriman itu, 1) senantia khusyu dalam shalatnya, 2) menjauhkan diri dari amalan yang kurang bermanfaat, 3) senantiasa menunaikan zakat. 4) menjaga kemaluannya, kecuali yang sudah halal bagi dirinya, 5) memelihara amanah dan janjinya, dan 6) memelihara shalatnya.
Mereka kelak akan mendapatkan keutamaan di sisi Allah dengan dianugrahkan kepadanya Surga Firdaus yang ia akan kekal di dalamnya.
Apabila kita merujuk pada hadits rasul yang menerangkan tentang esensi hidup orang beriman. Rupanya, bagi orang yang beriman rupanya tidaklah sederhana. Banyak hadits yang mengingatkan kepada kita, disamping keimanan kepada 6 rukun iman, keiman kita pun harus berdampak pula pada keshalehan sosial.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka mulyakanlah tetanggamu dan tamumu. Orang beriman tidak boleh hidup individualistis, hanya mementingkan kehidupan sendirinya. Walaupun secara umum hadirin banyak yang tinggal di komplek perumahan yang banyak orang mengatakan cendrung individualis, tetapi bagi kita sebagai orang-orang beriman, pandangan tersebut tentu tidak berlaku. Kita harus selalu berupaya untuk baik pada tetangga dan tamu.
Orang beriman harus selalu menjalin tali silaturahim. demikian juga orang beriman harus selalu menjaga lisannya. Yang keluar dari ucapannya hanya kalimat-kalimat yang baik saja.
Lebih jauh dari itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengatakan,
“Tidak dikatakan beriman seseroang apabila ia tidak mencitai suadaranya laksana mencintai dirinya sendiri.”
Semoga bermanfaat

Takwa dan Perbaikan Terus-menerus (Continues Improvement)

Banyak sekali ayat-ayat dalam Alquran yang berbicara masalah takwa. Dalam konteks pendidikan misalnya, tujuan pendidikan pada umumnya adalah untuk mencapai output peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Lantas, apa yang dimaksud dengan takwa itu sendiri?

Prof. Nashruddin Baidan dalam bukunya “Konsepsi Taqwa: Perspektif Al-Qur’an,” konsep takwa dalam perspektif Alquran memiliki banyak dimensi dari yang berkonotasi umum sampai yang khusus. Makna ini dapat ditemukan pada 242 ayat yang tersebar dalam enam puluh satu surah.

Makna umum takwa adalah, menjaga atau memelihara dari hal-hal yang tidak baik, merusak, dan sebagainya. Sedangkan makna khusus takwa dalam kalimat imperatif (memerintah atau melarang) terdapat dalam tujuh ayat, di mana empat ayat berbicara masalah sikap inklusif, pembentukan mentalitas takwa, takwa penyelamat kehidupan, dan menumbuhkan sikap futuristis (al-Hasyr: 18-20).

Sikapfuturistis ini dapat diterapkan apabila seseorang dalam kehidupannya selalu menerapkan prinsip “hari ini harus lebih baik dari kemarin” seperti yang disampaikan Abu Sulaiman, “siapapun yang hari ini dan kemarin sama nilainya maka dia rugi, dan manakala hari esoknya lebih buruk lagi maka dia menderita.” Prinsip ini yang dalan konsep Total Quality Management (TQM) yang sedang tren digunakan di berbagai organisasi disebut dengan perbaikan terus menerus (continues improvement).

Dalam konteks pekerjaan, sejatinya prinsip ini dapat diterapkan di semua waktu. Oleh karena itu pekerjaan kita sejatinya harus meningkat mutunya dibandingkan dari waktu sebelumnya sehingga Allah akan memberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan (an-Nahl [16]: 97).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Memang tidak bisa dihindari, sebagai manusia kita sering mengalami pasang surut semangat dan ini kondisi yang lumrah atau biasa. Oleh karena itu ada baiknya saat kondisi semangat menurun maka kita gunakan untuk istirahat sambil mengumpulkan semangat lagi.

Saya ilustrasikan seperti balapan formula 1, di mana pada saat perlu istirahat untuk perawatan mobil maka masuk pit stop. Tetapi yang namanya pit stop tidak berlama-lama. Karena kalau lama pasti akan kalah. Begitu juga dengan istirahat kita sebaiknya jangan berlama-lamaan sehingga khawatir malah keerusan menjadi malas dalam beribadah dan bekerja.

Demikian pembahasan materi yang singkat ini semoga Allah memberikan keberkahan bagi kita semua di untuk selalu semangat beribadah dan bekerja yang lebih baik dari sebelumnya atau continues improvement.

Wallahu a’lam

Rohmatulloh
Mahasiswa S3 Pendidikan Islam Pasca UIN SGD & Bekerja di BPSDM Kementerian ESDM

syarat sah wudhu

Syarat Sah Wudhu

 sarat sah wudhu

Syarat sah wudhu. Wudhu merupakan salah satu amalan ibadah yang agung dalam Islam. Secara bahasa wudhu berasal dari kata Al-Wadha’ah, yang mempunyai arti kebersihan dan kecerahan. Sedangkan menurut istilah, wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala, dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan solat atau ibadah yang lain. (Muslim.or.id)

Syarat Sahnya Wudhu

  1. Islam

Ibadah tidak akan diterima selain orang Islam, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Taala dalam surat Ali-Imran: 85

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darpadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

  1. Berakal

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Diangkat pena dari tiga orang; orang tidur hingga ia bangun, anak-anak sampai baligh, orang gila hingga berakal atau sadar.” (HR. Ahmad)

  1. Tamyiz

Biasanya dimulai sejak anak-anak berusia tujuh tahun. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Perintahkan anak-anak kalian (untuk melaksanakan) salat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (untuk melaksanakan salat setelah mencapai usia sepuluh tahun jika mereka enggan). Dan pisahlan tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

  1. Niat

Berdasarkan Hadis dari ‘Umar bi Khathab, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungghnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhori).

Donasi

  1. Menjaga kelanggengan niat dengan tidak berniat memutskan hingga selesai bertaharah.
  2. Terputusnya sebab-sebab yang mewajibkan wudhu

Maksudnya, sebelum memulai wudhu harus berhenti dari sesuatu yang keluar dari dua jalan, dan pembatal wudhu lainnya. Sehingga tidak boleh seorang memulai wudhu padahal ia belum selesai sempurna dari membuang hajat.

  1. Istinja’ atau Istijmar sebelum berwudhu.

Istinja’ adalah bersuci dengan air, sedangkan istijmar adalah bersuci dengan batu atau semisalnya. Wajib bagi orang yang telah menunaikan hajatnay untuk beristinja’, atau beristijmar sebelum memulai wudhu. Adapun bagi orang yang tidak menunaikan hajat dan tidak keluar sesuatu dari dua jalannya, maka tidak disyaratkan untuk beristinja’ atau berisjtimar.

  1. Tidak boleh berwudhu dengan aiar yang najis, dan tidak boleh berwudhu dengan air rampasan atau curian.
  2. Mengilangkan penghalang sampanya air ke kulit.

Wajib untuk menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit

  1. Masuknya waktu salat bagi orang yang terus menerus berhadats.

Bani Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan wanita yang mustahadhah untuk berwudhu setiap kali salat. Nabi Salallahu Alaihi Wassalam bersabda kepada Fatimah Binti Abu hubaisyi  (yang sedang istihadhah); “Berwudhulah pada setiap kali akan salat,’(HR.Ibnu Majah)

Sumber: Kitab Durusul Muhimmah li Amatil Ummah karya Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baz

Peternakan Ayam Petelur sebagai Penyokong Majelis Taklim

peternakan ayam petelurPeternakan ayam petelur Menjadi salah satu penyokong Majelis Taklim Al Barokah. Majelis yang didirikan atas inisiatif sendiri dari pengelola, didukung oleh istri tercinta dan keluarga ini sepenuhnya dibiayai oleh dana pribadi pengelola. Untuk itu pengelola harus pandai-pandai menyiapkan sumber dana

IIM IBROHIM, WARNA KEHIDUPAN

WARNA KEHIDUPAN
Oleh : Iim Ibrohim

Disampaikan pada Pengajian Bulanan Majelis Taklim Al Barokah
Pangauban, Putrajawa, Selaawi, Kabupaten Garut

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ,وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن.

Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, dan pengampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat petunjuk dari Allah maka tidak akan ada yang mampu menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada akan yang mampu memberi petunjuk baginya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan semua sahabatnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah, alhamdulillah atas ridha dan takdir Allah SWT hari ini kita dipertemukan dalam keadaan sehat wal afiat.

Disampaikan Esensi kesehatan. (Dokter vs ustadz).

Semoga rahmat Allah tercurah kepada kita semua. Pun kita digolongkan hamba-hamba yang dijanjikan oleh rasulullah yaitu bagian dari hamba-hamba yang dimudahkan jalan untuk menuju surga-Nya.

من سلك طريق يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا الى الجنه

Hadirin rahimakumullah, dalam sebuah hadits rasulullah saw pernah bersabda;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوْقُ:  إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ،ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ،ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ،وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالله الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: telah berkata kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan dia adalah orang yang  jujur lagi dipercaya:

“Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (sperma), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh,  dan dia diperintahkan mencatat empat  kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau kebahagiannya. Demi zat yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh al kitab (ketetapan/takdir),  maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu dia masuk ke dalamnya. Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahlin naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka cuma sehasta, namun dia telah didahului oleh taqdirnya, lalu dia mengerjakan perbuatannya ahli surga, lalu dia memasukinya”. (Hr. Bukhari Muslim).

Apabila melihat kontek hadits tersebut, nampak sekali bahwa rasulullah saw menginformasikan kepada kita beberapa hal penting. Di antaranya ialah proses penciptaan ummat manusia. Pada saat diciptakan manusia melalui beberapa tahap. Pertama nuthfah selama 40 hari, kedua alaqah 40 hari, dan ketiga mudhgah 40 hari juga. Nah setelah memasuki usia 120 hari (4 bulan), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh, lalu menentukan 4 hal yaitu;

1. Rizkinya
2. Ajalnya
3. Amalnya
4. Kesulitan dan kesenangan.

Hal menarik untuk dicermati, ternyata yang pertama kali ditentukan itu ialah perihal rizki. Padahal itulah yang selama ini banyak membuat ummat manusia galau. Banyak manusia lupa diri untuk memperolehnya.

Terdapat orang yang untuk memperoleh rizki menghalalkan segala cara. Bahkan ada yang berpikir radikal dengan mengatakan, “jangankan yang halal, yang haram saja sulit untuk masa sekarang ini”. Perilaku tersebut tentu dilarang.

Yang harus diyakini bahwa sebenarnya semua ummat manusia sudah diberikan kadar rizkinya. Yang terpenting ialah ia harus berusaha untuk menjemput rizki tersebut.

Tak sedikit contoh yang bisa direnungkan. Seseorang yang belum menikah, terkadang uangnya habis dan habis. Setelah menikah, uangnya bisa terkumpul. Kemudian setelah mempunyai anak, penghasilannya bertambah dan bertambah. Andai kita sadar, itulah bukti Allah memberikan kepada istri, anak dan lain sebagainya yang mungkin pintunya lewat kita.

Sampaikan (Kisah ulama HASAN Al BASRI saat berumrah dan menemukan seorang pedang kain)

Kematian ialah sebuah keniscayaa. Tak ada satu orangpun yang akan hidup kekal. Hanya Allah sendiri yang abadi. Tak ada syarat sakit untuk mati, syarat tua untuk meninggal. Kematian memang rahasia Allah.

Banyak yang diambil nyawa oleh Allah saat usia tua, dewasa, remaja, anak-anak, bayi, bahkan sebelum lahir ke alam dunia, sudah dipanggil oleh Allah swt.

Hati-hati, terdapat orang yang dengan beban hidupnya dan tidak kuat imannya berusaha mengakhiri hidup. Ia menganggap bahwa dengan mengakhiri hidup di dunia ini akan menghilangkan permasalahan. Padahal tidak. Kematian ialah perpindahan alam saja. kita pernah berada di alam rahim. Lalu sekarang ada di alam dunia. Setelah mati kita berpindah ke alam barzah (kubur) dan selanjutnya. Justru, keadaan di alam barzah dan selanjutnya akan ditentukan atau dipengaruhi dengan amalan masa di dunia ini. Apabila selama berada di dunia ini kita selalu memperbanyak amalan salehan, niscaya Allah akan memberikan nikmat saat di alam kubur (barzah) nanti.

Sebaliknya, apabila selama di dunia ini kita banyak dosa, maka saat di alam barzah nanti, kita akan mendapatkan siksa kubur.

Amalan manusia selama di dunia ini memang beraneka ragam. Wajar dan sangat wajar.

Dengan demikian hidup ini pernuh warna dan dipandang indah. Andai amalannya sama mungkin akan sangat monoton dan tidak akan terjadi interaksi yang baik. Dalam al quran surah al lail ayat ke-4 Allah mengingatkan;

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

Terakhir, yang sudah Allah tentukan atas kita sejak ada dalam rahim ibu kita ialah kesulitan dan kesenangan. Tak ada orang yang selamanya mengalami kesulitan.

Demikian juga sebaliknya. Orang miskin punya masalah, orang kaya pun punya masalah, dan mungkin maslahnya lebih banyak. Orang kurang ilmu punya bermasalah, orang pintar pun banyak masalah. Boleh guru kita semua Profesor Dr. H. Uus Ruswandi masalahnya lebih banyak dari kita. Tapi jangan sekali-kali berpikiran, kalau begitu sudah saja tidak usah berbuat apapun karena toh nanti juga akan bermasalah. Itu tentu salah.

Yang terpenting bagi kita ialah bagaimana kita berusaha menghadapi setiap kesulitan yang dihadapi dengan ikhlas. Andai itu dilakukan, niscaya Allah akan memberikan kebaikan kepada kita. Jangan lupa, pada saat selesai menyelesasikan suatu urusan, segera lakukan urusan yang lain. jangan menanti-nanti untuk menyelesaikannya.

Never put of until tomorrow what you can do today !

Yang harus kita yakini juga, dengan menghadapi masalah, maka akan membuat kita semakin dewasa dan berilmu.

Coba perhatikan, anak-anak sekolah, apa itu bukan suatu masalah ? belajar itu cape, butuh biaya, butuh waktu, tenaga dan lain-lain. Apalagi sekolahnya sampai perguruan tinggi S1, S2 dan S3. Mereka terus menghadapi masalah.

Yang sudah lelah, harus membayar dengan cukup mahal lagi. Tapi apa yang terjadi ? dengan semakin belajar, maka ia semakin tahu, dan yakiinilah Allah akan mengangkatkan derajat baginya. Apabila sudah berilmu, maka ia akan lebih banyak memberikan azas manfaat bagi orang lain.

Jadi simpulannya ialah, apabila kita hendak hendak diangkatkan derajat oleh Allah, maka hadapilah masalah-masalah itu.

Nah, pada saat diberikan kesenangan, tentu kita dianjurkan untuk bersyukur atas semua itu. bentuk syukur tentunya dengan melaksanakan kebaikan-kebaikan. Saya yakin, hadirnya ibu-ibu di majlis taklim al barokah ini, sebagai bentuk rasa syukur ibu-ibu atas karunia dari Allah SWT.

Tertawa sewajarnya, gembira ria sewajarnya. Yang terpenting jangan sampai lupa diri saja.

Kalau itu dilakukan, niscaya Allah akan menambahkan nikmat kepada kita semua, dan Allah pun akan senang karena kita menggunakan kesenangan-kesenangan yang diberikan-Nya untuk kebaikan-kebaikan.

Hadirin yang dimulyakan Allah rupanya itu yang dapat disampaikan. Yang benar mutlak dari Allah SWT, dan yang salah itu semata-mata dari saya sendiri. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Amin.

Allahummaghfir lil mukminina wal mukminat. Wal muslimina walmuslimat. Al ahyai minhum wal amwat.
Rabbana hablana min azwajina wadurriyyatina qurrata a’yun, wajalna lil muttaqina imama.

Rabbana dhalamna anfusana wa inlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasyrin.

Rabbana atina fil dunya hasanah, wafil akhirati hasanah waqina azabannar.

Waasalamu alaikum w.w

Garut, 14 Juli 2019

Semangat Ramadan tak boleh surut

Ramadan Berlalu, Semangat Ibadah Tidak Boleh Surut

Asep Rizal Khoerudin: Ramadan berlalu, tetapi semangatnya tidak boleh hilang dari keseharian. Ibadah harus tetap ssigap, sedekah mesti tetap semangat.

Bulan Ramadan telah kita lalui bersama. Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah telah mengajarkan banyak hal kepada kita untuk menahan hawa nafsu melalui puasa. Bulan Ramadan telah mengajarkan kita untuk berlapang dada, dan merasakan penderitaan orang-orang kecil. Hingga pada akhirnya kita dipertemukan dengan Hari Raya Idulfitri yang biasa kita sebut sebagai hari kemenangan.