You cannot copy content of this page

Category: Artikel

Meneladani Sifat Rosulullah

meneladani sifat rosulullah

Assalamualaikum w. w.

Pembaca yang budiman dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Taala, semoga kita semua ada dalam Rahmat dan Perlingdungan Allah Subhanahu Wa Taala. Apa yang diinginkan mendapatkan kemudahan, kemudian, yang sedang sakit semoga diberikan kesembuhkan dan kesehatan oleh Allah Subhanahu Wa Taala.

Firman Allah Surat At-Taubah Ayat 128.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Ayat tersebut menceritakan kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam secara khusus. Mengapa Allah memberikan Nabi Muhammad dengan sebutan yang mulia? Karena Akhlak, dan Allah mengutus Nabi Muhammad pun karena akhlak. Tidak ada misi utama Nabi kecuali menyempurnakan akhlak.

MT Al-Barokah Dan Jamaah Yang Semakin Tak Tertampung

            

MT (Majelis Taklim) Al-Barokah dengan agenda rutinnya menyelenggarakan kajian islam selalu mampu menumbuhkan semangat bagi jamaahnya untuk menuntut ilmu. Bukan hanya kaum ibu yang selalu terlihat mengikuti kajian yang diselenggarakan setiap bulan ini, anak-anak pun tak kalah antusias ikut berbaur bersama orang tua mereka. Ini terlihat pada kajian yang diselenggarakan pada Ahad, 13 September 2019 oleh Majelis Taklim Al-Barokah kp. Pangauban desa Putra Jawa kec. Selaawi kabupaten Garut.

Dari beberapa potret yang terlihat begitu banyak lapisan masyarakat yang hadir dari mulai anak usia dini sampai kaum lanjut usia. Memang bukan tanpa alasan MT Al-Barokah selalu menampilkan sesuatu yang baru pada setiap acara yang digelar setiap Ahad  kedua itu, di antaranya pemberian identitas anggota dalam bentuk kartu, pemeriksaan kesehatan secara gratis, sampai mengadakan perlombaan yang berhasil menarik antusias para jamaah sehingga tak heran semakin hari kehadiran jamaah  semakin banyak bahkan nyaris tak tertampung di aula utama, mereka pun rela harus duduk diselasar samping ruangan utama meski sedikit kepanasan tapi tak menyurutkan semangat mereka mengikuti rangkaian acara sampai selesai.

Selain itu para mubalilgh yang selalu berganti setiap pertemuan menjadi daya tarik lain bagi jamaah, tentu saja mereka akan selalu bersemangat untuk hadir karena penasaran dengan mubaligh yang akan mengisi tausyiah pada pertemuan saat itu.

https://mtalbarokah.org/donasi/

Pihak pengelola menyambut baik antusiasme warga yang selalu ramai datang ke kajian tersebut. Selain sebagai sarana tolabul iilmi momenutum ini jadi ajang silaturahmi antar warga masyarakat di lingkungan desa Putra Jawa yang terdiri dari tujuh dusun. Tentu saja Uus Ruswandi selaku pengelola merasa senang dengan peningkatan jamaah yang semakin bertambah dari waktu ke waktu, ini menunjukan kalau kehaidran Majelis Taklim Al-Barokah begitu diterima di hati masyarakat khususnya dilingkungan desa Putra Jawa.

­­­­Mudah-mudahan Majelis Taklim Al-barokah senantiasa menjadi hujjah bagi jamaah untuk selalu bersemangat mencari ilmu dan selalu berinovasi memberikan fasilitas terbaik demi tegaknya syiar Islam di lingkungan warga desa Putra Jawa khususnya, dan umumnya bagi kaum muslimin semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

Ibu-ibu Panitia Dibalik Kesuksesan Pengajian

Di Balik Kesuksesan Pengajian Bulanan Majelis Taklim Al-Barokah

Di balik kesuksesan pengajian bulanan Majelis Taklim Al-Barokah tidak luput dari campur tangan orang-orang yang berada di belakangnya. Mulai dari penyediaan fasilitas dan persiapan di lapangan, serta penyediaan konsumsi untuk ibu-ibu pengajian. Adapun orang-orang yang berada di belakang layar tidak lain tidak bukan merupakan warga dari kampung Pangauban, yang berjumlah empat orang lelaki dan lima orang perempuan.

Pengajian bulanan diadakan setiap hari Minggu. Koyah, Yayah, Oon, Nurul, dan Ai selaku seksi konsumsi telah bersiap-siap dari hari Jumat malam. Biasanya makanan yang dibuat merupakan paket makanan berat disertai dua jenis makanan kecil atau cemilan. Sebanyak 230 paket makanan untuk ibu-ibu serta 70 paket makanan kecil untuk anak-anak.

KPR Syari'ah

Hukum KPR Syari’ah Menurut Ulama

KPR Syari'ah
animesubindo.com

Dari: Amran

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

KPR bank bermasalah secara syariah. Karena hakikat KPR bank adalah kita meminjam uang di bank kemudian melunasinya dengan tambahan bunga, hal ini tentu saja riba. Sementara kita dilarang memberi riba kepada orang lain.

Puasa Senin Kamis

Keutamaan Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis
https://makassar.tribunnews.com/2019/09/12/niat-dan-tata-cara-puasa-senin-kamis-dan-manfaatnya-bisa-untuk-diet-hingga-cegah-penyakit-kanker

Puasa Senin Kamis adalah salah satu amalan sunnah yang dapat kita lakukan.  Setelah kita menunaikan yang wajib, maka alangkah bagusnya kita bisa menyempurnakannya dengan amalan yang sunnah. Ketahuilah bahwa puasa sunnah nantinya akan  menambal kekurangan yang ada pada puasa wajib. Oleh karena itu, amalan sunnah sudah sepantasnya tidak diremehkan.

MARDHATILLAH SEBAGAI KUNCI KEBAHAGIAAN HIDUP YANG HAKIKI

 

Mardhatillah sebagai kunci kebahagiaanOleh:

Endi Suhendi[2]

E-mail: ayah.shanum13@gmail.com

PENDAHULUAN

Setiap orang ingin merasa bahagia. Hanya saja tidak semua orang tahu bagaimana cara meraih kebahagiaan. Ada yang berpikir bahwa bahagia bisa dirasakan ketika seseorang memiliki banyak harta. Dengan harta yang melimpah, kekuasaan mudah didapat, segala kebutuhan jasmani dan rohani bisa terpenuhi. Kebahagiaan bisa dibeli, begitu kira-kira. Pola pikir semacam ini ada benarnya, tapi tidak tepat. Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikannya, lihat saja ke sekeliling kita, atau bacalah berita di berbagai media massa. Jika harta yang dijadikan tujuan untuk bisa merasa bahagia, maka hasilnya bisa dilihat: korupsi di mana-mana, pencurian, perampokan, dan penipuan selalu terjadi berulang-ulang.

Esensi Keimanan

Esensi Keimanan
Oleh : Ibrohim El Hasbi
Kata iman berulang dan berulang kita dengar dan baca. Ia merupakan salah satu rukun agama yang yang harus menjadi perhatian untuk kita semua. Apabila merujuk pada kamus bahasa Indonesia, kata iman diartikan percaya atau yakin. Sedangkan apabila ditinjau dari definisi istilah, sebagian ulama mengartikan iman dengan tashdiqun bil qalbi, wataqrirun bil lisan wata’malun bil arkan. Diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Dengan demikian, maka iman tidak cukup kita ucapkan saja, melainkan harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Setiap orang beriman harus menunjukkan tiga dimensi sebagai aktualisasi dari keimannya, yaitu meyakini, mengatakan dan melakukan.
Apabila merujuk pada hadits, dimana Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “ahbirni anil iman?”
Rasul menjawab, “an tu’mina billahi, wamalaikatihi, wakutubuhi, warusulihi, wal yaumil akhiri, wabiqadrihi khairihi wasyarrihi”. Iman itu ialah mempercayai Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat, dan ketentuan dari Allah Subhanahu Wa Taala, baik itu takdir baik maupun buruk.
Selanjutnya, bagi orang yang beriman di samping dia meyakini, mengatakan, dan mengamalkan terdapat indikator-indikator yang menunjukkan bahwa dirinya sebagai pribadi mukmin. Hal tersebut misalnya diterangkan Allah dalam Alquran surah Al Anfal ayat 2-4, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (2) [yaitu] orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki [ni’mat] yang mulia.” (4). (QS Al-Anfal [8]: 2-4), dan QS Al Muminun 1-11,

Dari keterangan surah al anfal tersebut, dapat kita lihat bahwa bagi orang-orang yang iman itu terdapat beberapa indicator, 1) apabila disebut nama Allah, maka hatinya bergetar. Ia takut, sadar, pasrah bahwa dirinya memang hanyalah milik Allah SWT, 2) apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanannya, 3) ia hanya bertawakal (memasrahkan segala urusannya kepada Allah semata. Orang tawakal tidak pernah putus asa. Pun ia sadar bahwa segala ketentuan hidupnya sudah digariskan oleh Allah swt. 4) senantia mendirikan shalat dalam keadaan apapun, dan 5) selalu berusaha untuk menginfakkan sebagian dari harta yang dimilikinya.
Nah, bagi orang-orang yang beriman seperti yang digambarkan di atas, meraka akan dimulyakan oleh Allah derajanya, rizki dan nikmatnya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Selanjutnya, dalam al quran surah al mukminun Allah menyebutkan pula indicator-indikator otang mukmin yang sejati;
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (1), (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya (2), dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna (3) dan orang yang menunaikan zakat (4), dan orang yang memelihara kemaluannya (5), kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela(6), Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (7), Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya (8), serta orang yang memelihara shalatnya (9), Mereka itulah orang yang akan mewarisi (10), (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11).”

Orang beriman itu, 1) senantia khusyu dalam shalatnya, 2) menjauhkan diri dari amalan yang kurang bermanfaat, 3) senantiasa menunaikan zakat. 4) menjaga kemaluannya, kecuali yang sudah halal bagi dirinya, 5) memelihara amanah dan janjinya, dan 6) memelihara shalatnya.
Mereka kelak akan mendapatkan keutamaan di sisi Allah dengan dianugrahkan kepadanya Surga Firdaus yang ia akan kekal di dalamnya.
Apabila kita merujuk pada hadits rasul yang menerangkan tentang esensi hidup orang beriman. Rupanya, bagi orang yang beriman rupanya tidaklah sederhana. Banyak hadits yang mengingatkan kepada kita, disamping keimanan kepada 6 rukun iman, keiman kita pun harus berdampak pula pada keshalehan sosial.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka mulyakanlah tetanggamu dan tamumu. Orang beriman tidak boleh hidup individualistis, hanya mementingkan kehidupan sendirinya. Walaupun secara umum hadirin banyak yang tinggal di komplek perumahan yang banyak orang mengatakan cendrung individualis, tetapi bagi kita sebagai orang-orang beriman, pandangan tersebut tentu tidak berlaku. Kita harus selalu berupaya untuk baik pada tetangga dan tamu.
Orang beriman harus selalu menjalin tali silaturahim. demikian juga orang beriman harus selalu menjaga lisannya. Yang keluar dari ucapannya hanya kalimat-kalimat yang baik saja.
Lebih jauh dari itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengatakan,
“Tidak dikatakan beriman seseroang apabila ia tidak mencitai suadaranya laksana mencintai dirinya sendiri.”
Semoga bermanfaat

Takwa dan Perbaikan Terus-menerus (Continues Improvement)

Banyak sekali ayat-ayat dalam Alquran yang berbicara masalah takwa. Dalam konteks pendidikan misalnya, tujuan pendidikan pada umumnya adalah untuk mencapai output peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Lantas, apa yang dimaksud dengan takwa itu sendiri?

Prof. Nashruddin Baidan dalam bukunya “Konsepsi Taqwa: Perspektif Al-Qur’an,” konsep takwa dalam perspektif Alquran memiliki banyak dimensi dari yang berkonotasi umum sampai yang khusus. Makna ini dapat ditemukan pada 242 ayat yang tersebar dalam enam puluh satu surah.

Makna umum takwa adalah, menjaga atau memelihara dari hal-hal yang tidak baik, merusak, dan sebagainya. Sedangkan makna khusus takwa dalam kalimat imperatif (memerintah atau melarang) terdapat dalam tujuh ayat, di mana empat ayat berbicara masalah sikap inklusif, pembentukan mentalitas takwa, takwa penyelamat kehidupan, dan menumbuhkan sikap futuristis (al-Hasyr: 18-20).

Sikapfuturistis ini dapat diterapkan apabila seseorang dalam kehidupannya selalu menerapkan prinsip “hari ini harus lebih baik dari kemarin” seperti yang disampaikan Abu Sulaiman, “siapapun yang hari ini dan kemarin sama nilainya maka dia rugi, dan manakala hari esoknya lebih buruk lagi maka dia menderita.” Prinsip ini yang dalan konsep Total Quality Management (TQM) yang sedang tren digunakan di berbagai organisasi disebut dengan perbaikan terus menerus (continues improvement).

Dalam konteks pekerjaan, sejatinya prinsip ini dapat diterapkan di semua waktu. Oleh karena itu pekerjaan kita sejatinya harus meningkat mutunya dibandingkan dari waktu sebelumnya sehingga Allah akan memberi balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan (an-Nahl [16]: 97).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Memang tidak bisa dihindari, sebagai manusia kita sering mengalami pasang surut semangat dan ini kondisi yang lumrah atau biasa. Oleh karena itu ada baiknya saat kondisi semangat menurun maka kita gunakan untuk istirahat sambil mengumpulkan semangat lagi.

Saya ilustrasikan seperti balapan formula 1, di mana pada saat perlu istirahat untuk perawatan mobil maka masuk pit stop. Tetapi yang namanya pit stop tidak berlama-lama. Karena kalau lama pasti akan kalah. Begitu juga dengan istirahat kita sebaiknya jangan berlama-lamaan sehingga khawatir malah keerusan menjadi malas dalam beribadah dan bekerja.

Demikian pembahasan materi yang singkat ini semoga Allah memberikan keberkahan bagi kita semua di untuk selalu semangat beribadah dan bekerja yang lebih baik dari sebelumnya atau continues improvement.

Wallahu a’lam

Rohmatulloh
Mahasiswa S3 Pendidikan Islam Pasca UIN SGD & Bekerja di BPSDM Kementerian ESDM

syarat sah wudhu

Syarat Sah Wudhu

 sarat sah wudhu

Syarat sah wudhu. Wudhu merupakan salah satu amalan ibadah yang agung dalam Islam. Secara bahasa wudhu berasal dari kata Al-Wadha’ah, yang mempunyai arti kebersihan dan kecerahan. Sedangkan menurut istilah, wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala, dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan solat atau ibadah yang lain. (Muslim.or.id)

Syarat Sahnya Wudhu

  1. Islam

Ibadah tidak akan diterima selain orang Islam, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Taala dalam surat Ali-Imran: 85

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darpadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

  1. Berakal

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Diangkat pena dari tiga orang; orang tidur hingga ia bangun, anak-anak sampai baligh, orang gila hingga berakal atau sadar.” (HR. Ahmad)

  1. Tamyiz

Biasanya dimulai sejak anak-anak berusia tujuh tahun. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Perintahkan anak-anak kalian (untuk melaksanakan) salat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (untuk melaksanakan salat setelah mencapai usia sepuluh tahun jika mereka enggan). Dan pisahlan tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

  1. Niat

Berdasarkan Hadis dari ‘Umar bi Khathab, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungghnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhori).

Donasi

  1. Menjaga kelanggengan niat dengan tidak berniat memutskan hingga selesai bertaharah.
  2. Terputusnya sebab-sebab yang mewajibkan wudhu

Maksudnya, sebelum memulai wudhu harus berhenti dari sesuatu yang keluar dari dua jalan, dan pembatal wudhu lainnya. Sehingga tidak boleh seorang memulai wudhu padahal ia belum selesai sempurna dari membuang hajat.

  1. Istinja’ atau Istijmar sebelum berwudhu.

Istinja’ adalah bersuci dengan air, sedangkan istijmar adalah bersuci dengan batu atau semisalnya. Wajib bagi orang yang telah menunaikan hajatnay untuk beristinja’, atau beristijmar sebelum memulai wudhu. Adapun bagi orang yang tidak menunaikan hajat dan tidak keluar sesuatu dari dua jalannya, maka tidak disyaratkan untuk beristinja’ atau berisjtimar.

  1. Tidak boleh berwudhu dengan aiar yang najis, dan tidak boleh berwudhu dengan air rampasan atau curian.
  2. Mengilangkan penghalang sampanya air ke kulit.

Wajib untuk menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit

  1. Masuknya waktu salat bagi orang yang terus menerus berhadats.

Bani Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan wanita yang mustahadhah untuk berwudhu setiap kali salat. Nabi Salallahu Alaihi Wassalam bersabda kepada Fatimah Binti Abu hubaisyi  (yang sedang istihadhah); “Berwudhulah pada setiap kali akan salat,’(HR.Ibnu Majah)

Sumber: Kitab Durusul Muhimmah li Amatil Ummah karya Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baz

Peternakan Ayam Petelur sebagai Penyokong Majelis Taklim

peternakan ayam petelurPeternakan ayam petelur Menjadi salah satu penyokong Majelis Taklim Al Barokah. Majelis yang didirikan atas inisiatif sendiri dari pengelola, didukung oleh istri tercinta dan keluarga ini sepenuhnya dibiayai oleh dana pribadi pengelola. Untuk itu pengelola harus pandai-pandai menyiapkan sumber dana