Ramadan dan pembiasaan karakter disiplin

Ramadan dan Pembiasaan Karakter Disiplin

Oleh :  Uus Ruswandi *)

Akhir Ramadan 1441 H

Ramadan 1441 H sebentar lagi akan berakhir. Dalam hitungan jari, bulan yang penuh dengan rahmat ini akan meninggalkan kita. Umat Islam Indonesia dan dunia pada umumnya memanfaatkan momen ini  dengan meningkatkan amaliyah Ramadan sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah Saw. Cara Rasulullah Saw  melepas Ramadan berbeda dengan kita sebagai umatnya.  Beliau menganjurkan agar setiap mukmin mengencangkan ikat pinggang di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Mengencangkan ikat pinggang memiliki arti sungguh-sungguh  meningkatkan kebaikan dan penghambaan kepada Allah Swt. Sebagaimana Rasulullah Saw  ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari, jilid 1  nomor 2024).

Memperbanyak membaca al-Quran, baik dengan mahir ataupun sedang belajar akan memperoleh pahala luar biasa. (HR. Al-Bukhari, jilid 3 nomor 4937). Memperbanyak  shadaqah, sebab baginya ada pintu khusus di hari kiamat nanti. (HR. Al-Bukhari, jilid 2 nomor 3666).   Itikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah Swt). Aisyah berkata : “Nabi Saw melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Al-Bukhari, jilid 1 nomor 2026).

Itulah di antara sederet anjuran dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah Saw. dalam menjalankan ibadah di akhir bulan Ramadan. Semoga kita bisa meneladani Beliau dalam hal kedisiplinan beribadah di bulan Ramadan yang hampir habis ini.

 

Pembiasaan Karakter Disiplin

Selain kedsiplinan ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. ada banyak karakter disiplin yang bisa dilatih selama bulan Ramadan. Dengan harapan walaupun Ramadan telah berlalu, kelak karakter tersebut masih melekat dalam diri kita.

Karakter disiplin seseorang sangat penting dan dibutuhkan dalam melaksanakan berbagai kegiatan sehari-hari. Pada lembaga pendidikan di sekolah  pendidik dituntut harus disiplin ketika akan masuk ataupun keluar kelas dengan maksud agar para peserta didik dapat meneladaninya dan terbiasa disiplin. Kegiatan perbankan, khususunya pelayanan terhadap para nasabah dilakukan dengan tepat waktu misalnya pukul 08.00. Dunia penerbangan pun sama menekankan ketepatan dalam keberangkatan pesawatnya. Hal ini, dilakukan karena betapa pentingnya disiplin dalam aktivitas mereka. Jika tidak disiplin, maka masyarakat akan menilai  reputasi sekolah, perbankan ataupun penerbangan tersebut kurang baik.

Ibadah puasa di bulan Ramadan memiliki nilai pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Salah satu di antaranya adalah karaker disiplin. Karaker disiplin dalam pelaksanaan ibadah Ramadan dapat dicermati pada pelaksanaan berbuka dan sahur. Dalam pelaksanaan berbuka (ifthar), sebelum azan Magrib berkumandang kaum muslimin  tidak diperkenankan mencicipi makanan atau minuman sekalipun sudah terasaji di meja makan. Akan tetapi sebaliknya ketika azan Magrib berkumandang, Rasulullah Saw menganjurkan untuk segera berbuka (ifthar). Bagi  orang yang berpuasa, berbuka inilah saat yang membahagiakan  dan merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah seharian menahan lapar dan haus.

Pantas jika Rasulullah Saw menyebutnya bagi orang berpuasa memperoleh  dua  kebahagiaan, yaitu kebahagian ketika berbuka (ifthar) dan kebahagian ketika bertemu dengan Rabbnya. (HR. Al-Bukhâri, jilid 1 nomor 1904).

Sementara itu, sahur juga merupakan amalaiyah Ramadan yang sangat penting dilakukan oleh kaum muslimin. Makan sahur sangat penting, tetapi sering diabaikan oleh sebagian kaum muslimin karena malas bangun ketika sudah pulas tertidur. Padahal makan  sahur  itu sunah dan sangat dianjurkan untuk mengakhirkan waktunya, artinya tidak terlalu lama sebelum masuk waktu fajar (imsak). Rasulullah Saw. bersabda: “Sahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan.” (HR. Al-Bukhari, jilid 1 nomor 1923)

Amaliyah ini penting agar di siang hari kaum muslimin  dapat menjalankan shaum dengan kuat dan sehat. Tidak berbeda dengan saat kaum muslimin berbuka, maka ketika sudah waktunya imsak seluruh aktivitas makan, minum, merokok, hubungan suami istri  dan lain sebagainya dihentikan.

Bagi kaum muslimin kegiatan berbuka (ifthar) identik dengan  nilai kebahagian, sementara sahur identik dengan nilai keberkahan. Kedua  amaliyah Ramadan tersebut (menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur) dapat memberikan  nilai pendidikan khususnya karakter disiplin bagi kaum muslimin. Karakter disiplin  tersebut diwujudkan dalam perilaku taat dan patuh pada ketentuan/norma  agama  yang bersumber pada al-Quran dan Hadis maupun Negara.

Harapan 11 bulan yang akan Datang 

Ramadan merupakan arena pendidikan dan pelatihan bagi kaum muslimin. Pendidikan dan pelatihan tersebut terkait dengan pembiasaan disiplin, kepedualian untuk berbagi, shalat malam, membaca al-Quran dan sebagainya. Oleh sebab itu, diharapkan  kaum muslimin selepas  melaksanakan ibadah shaum 1441 H mampu menerapkannya  dalam kehidupan sehari-hari  di sebelas bulan yang akan datang. Sebagai bentuk kepedulian  sebagai kaum muslimin mari memanjatkan doa untuk bangsa Indonesia agar Pandemi Covid-19 segera berakhir. Aamiin yaa rabbal alamiin. Semoga bermanfaat.

 

*) Uus Ruswandi Pengelola Majelis Taklim Al-Barokah di Putrajawa dan Staf Pengajar  UIN SGD Bandung

One thought on “Ramadan dan Pembiasaan Karakter Disiplin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *