Ramadan di tengah Pandemi

Sunyinya Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh :  Uus Ruswandi *)

Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Kemeriahan kegiatan keagamaan Ramadan 1441 H, sangat berbeda dengan kegiatan Ramadan 1440 H. Secara umum kegiatan keagamaan Ramadan 1441 H relatif  sunyi. Suara azan  di masjid sejak Subuh hingga Magrib memang terdengar dari satu masjid ke masjid lain. Namun selepas Magrib menjelang salat Isya, di beberapa masjid  kurang  terdengar suara imam melantunkan bacaan al-Quran ketika melaksanakan salat Isya dan salat sunnah tarawih.

Pelaksanaan ibadah Jumat pun boleh dilaksanakan, tetapi harus sesuai dengan protokol pandemi Covid-19.  Demikian juga kegiatan tadarus al-Quran, kegiatan peringatan Nuzul Quran,  dan Pesantren Kilat (Sanlat) yang diselenggrakan oleh IRMA, sebab kegiatan ini melibatkan banyak orang.  Padahal kegiatan Sanlat merupakan ruang berbagi untuk kaum muslimin dengan menyediakan santapan ta’jil dan makan sahur untuk peserta Sanlat dan panitia. Pada kegiatan Sanlat juga diisi dengan kajian-kajian keislaman dengan menghadirkan narasumber yang kompeten.

Kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh masjid-masjid kampus pun sepi, sebab para mahasiswa yang aktif di masjid kampus sebagian besar memilih pulang ke daerahnya masing-masing.

Ramadan 1441 H akan segera berakhir. Rasulullah Saw. menganjurkan pada 10 hari terakhir untuk lebih meningkatkan amaliyah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Banyak amaliyah-amaliyah Ramadan yang bisa dilaksanakan selama 10 terakhir, misalnya: memperbanyak membaca al-Quran. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda: “Puasa dan al-Quran akan menengahi atas nama hamba Allah pada waktu hisab. Puasa akan berkata: “Ya Tuhanku! Saya mencegahnya dari makanan dan nafsu di siang hari, maka terimalah syafaat saya untuknya.” Dan al-Quran akan berkata: ‘Ya Tuhanku! Saya mencegahnya tidur di malam hari, jadi terimalah syafaatku untuknya,” Dengan demikian syafaat keduanya akan diterima,” (HR Ahmad).

Memperbayak doa, memperbanyak shadaqah: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau engkau menyingkirkan darinya kesusahannya, atau engkau mengusir rasa lapar darinya, atau engkau melunasi utangnya.” (HR At-Thabrani).

Di samping memperbanyak amaliyah Ramadan menjelang 10 hari terakhir,   Pengelola masjid (DKM) sudah mulai melaksanakan persiapan penerimaan ZIS. Prosedur pengumpulan dan pendistribusian  disesuaikan dengan ketentuan Menteri Agama RI dan Badan Amil Zakat (BAZNAS) dengan memperhatikan keamanan dan kewaspadaan/memperlakukan  protokol kesehatan (menjaga jarak minimal 1.5 meter, tidak bersalaman, tidak bersentuhan dan menggunakan masker. Demikian pula Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan. Kebijakan  tersebut didasarkan pada Surat Edaran nomor : 451/64/Yanbangsos, tanggal 23 April 2020 tentang Penyelengaraan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1441 H dalam Situasi Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Kegiatan keagamaan lain yang berbeda dengan Ramadan 1440 H lalu adalah, penyelanggaraan pengajian dan kajian yang diselengarakan oleh majelis taklim. Meskipun masih ada beberapa majelis taklim di bulan Ramadan yang masih menyelenggarakan kegiatan keagamaan berupa tadarus khusus ibu-ibu, halaqah kajian keislaman dengan jumlah jamaah yang terbatas.

Sementara  pengajian yang dilaksanakan dengan menghadirkan jamaah dalam jumlah banyak di bulan Ramadan ini ditiadakan. Sebagai penggantinya, ibu-ibu jamaah majelis taklim melaksanakan kegiatan tadarus, salat tarawih dan kegiatan lainnya secara individual di rumah sesuai anjuran pihak berwenang.

Kegiatan ibu-ibu majelis taklim seperti itu, cukup baik dan menggembirakan. Hanya saja, secara psikologis mereka tidak memiliki ruang untuk silaturrahmi dengan jamaah lain.

Kegiatan Ramadan kali ini pun di berbagai TV nasional swasta tidak semeriah  kagiatan keagamaan di tahun-tahun sebelumnya. Banyak kegiatan keagamaan seperti, menjelang buka puasa, menjelang sahur, dan lain sebagainya diselenggarakan tanpa kehadiran penonton di studio. Kecuali acara kegiatan keagamaan tersebut direkam sebelum terjadinya Pandemi  Covid-19.

Selain itu, lembaga majelis taklim atau halaqah pengajian yang memiliki dana memadai, menyelenggarakan pengajiannya dengan mengundang jamaah melalui aplikasi zoom meeting. Tentu saja aplikasi zoom meeting ini sangat baik dilaksanakan untuk menjaga keberlangsungan pengajian. Hanya saja aplikasi tersebut sulit dilakukan oleh pengelola majelis taklim di daerah-daerah yang terbatas kemampuan jamaahnya pada aspek finansial, karena aplikasi tersebut membutuhkan ketersedian kuota.

Sunyinya kegiatan ibadah dan amaliyah Ramadan 1441 H kali ini pun, memang didasarkan pada kebijakan pemerintah dan Fatwa MUI terkait dengan kemaslahatan umat dalam kerangka penyebaran pandemi Covid-19

Fatwa MUI terkait dengan Pandemi Covid-19

Seiring dengan menyebarnya  pandemi Covid 19 di Indonesia, upaya dilakukan pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan oleh pemerintah baik  pusat ataupun daerah, tidak terkecuali Majelis Ulama Indonesia (MUI).  Pada tanggal 21 Rajab 1441 bertepatan dengan 16 Maret 2020, MUI Komisis Fatwa Prof. Dr. H. Hasanuddin AF (Ketua) dan Dr. HM Asrorun Ni’am Sholeh, MA mengeluarkan  Fatwa Nomor 14  Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan ibadah dalam situasi Wabah Corona Virus Deases 19 (Covid-19).

Salah satu poin dalam fatwa tersebut yaitu butir keenam berbunyi sebagai berikut: “Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat Jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan salat Zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran Covid-19, seperti jamaah salat lima waktu/rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.”

Berdasarkan Fatwa MUI pusat tersebut, sebagian masyarakat Indonesia merespon positif  atas larangan kegiatan ibadah,  amaliyah Ramadan, menghadiri pengajian umum ataupun majelis taklim yang melibatkan orang banyak dengan alasan demi mencegah pandemi Covid-19.

Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat yang tetap menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ibadah dan amaliyah Ramadan dengan mempertimbangkan protokoler pandemi Covid 19. Sebab dalam Fatwa MUI pun ada ruang bagi masyarakat yang akan tetap melaksanakan kegiatan ibadah jumat khususnya  atau amaliyah Ramadan lainnya jika “dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shlat Jumat”.(Butir ketujuh).

Demikian juga,  mereka melaksanakan kegiatan ibadah dan amaliyah Ramadan sesuai dengan Surat Edaran tentang Protokol Pelaksanaan Salat Jumat untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Masjid Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa  Barat, tertanggal 18 Maret 2020.  Antara lain:  dengan pembatasan jarak antar jamaah, penyemprotan area masjid dengan disinfektan, menyediakan hand sanitizer dan pengukur suhu tubuh elektrik, membawa sajadah sendiri, tidak berjabat tangan dan berpelukan, imam disarankan membaca surat pendek serta segera bubar setelah pelaksanaan salat jumat.

Donasi

Harapan Ramadan 1442 H yang akan Datang 

Sebagian besar masyarakat Indonesia dan dunia berdoa, agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Semua berharap jika kegiatan-kegiatan ibadah dan kegiatan amaliyah Ramadan 1442 H kembali semarak seperti tahun-tahun sebelum mewabahnya Covid-19 ini. Sejatinya masjid-masjid semarak kembali dengan kegiatan ta’jil bersama, salat Tarawih, tadarus, Sanlat, peringatan Nuzulul Quran, i’tikaf dll.

Di sisi lain, kita berharap kepada masyarakat Indonesia agar mendoakan semoga para tenaga medis tetap semangat dan ikhlas dalam menangani pasien Covid-19.  Begitu pula para pasien yang terpapar semoga diberikan kesabaran serta yang sudah diambil oleh Allah, semoga wafat dalam keadaan  husnul khotimah.

Hal ini pun sesuai dengan Fatwa MUI salah satu butirnya agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak shalawat, memperbanyak sedekah, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (doa daf’u al-bala’), khususnya dari wabah COVID-19.

Semoga bermanfaat.

 

*) Uus Ruswandi Pengelola Majelis Taklim Al-Barokah di Putrajawa dan Dosen UIN SGD Bandung

 

 

One thought on “Sunyinya Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19”

  1. Terima kasih Prof pencerahannya, sebagai bahan renungan. Semoga kondisi sekarang ini cepat berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *