Dr. KH. Abdul Hamid, M.Ag. Amalan yang Dibawa Mati

DR. KH. Abdul Hamid menyampaikan ceramah pada kegiatan pengajian bulanan Majelis Taklim Al Barokah 10 Februari lalu. Kegiatan halaqah ini dimulai pada pukul 13.00 tersebut dihadiri oleh kurang lebih 175 orang jamaah yang berada di lingkungan Desa Putrajawa Kecamatan Selaawi. Kegiatan pengajian bulanan  ini diawali dengan membaca basmallah bersama-sama, pembacaan Kalam Suci Ilahi oleh Ibu-ibu Majelis Ta’lim, sambutanm Pengelola Prof. Dr. H. Uus Ruswandi, M.Pd.

Dalam ceramahnya Pemateri menyampaikan tentang amalan yang dibawa mati. “Dalam al quran ketika kita ingin bahagia, maka sebaiknya merujuk pada potongan ayat tiga pada surat Al-Ashr,  وتوا صوا بالحقّ وتوا صوا بالصّبر Yaitu, “dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Ayat ini dimaksudkan bila dalam suatu kampung, warga di dalamnya harus saling mengasah ilmu agama, contohnya mengikuti pengajian-pengajian. Kemudian juga saling memaafkan antar tetangga bila ada salah, saling mengajak dalam kebaikan, serta saling membantu bila ada yang terkena musibah. Hal-hal itulah yang dapat menuntun kita ke dalam kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang tiada ujungnya.

Pada dasarnya harta yang kita miliki tidak akan dibawa mati, seperti pada Surat Al-Mulk ayat kedua yaitu :

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيّكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik, amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Sehingga ketika kita mati, tidak ada  yang kita bawa bahkan secuil pakaian pun tidak ada. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman watazawwadu fainna khaira zaadi taqwa. Dalam firman ini Allah Subhanahu Wa Taala menjelaskan bahwa manusia memiliki dua bentuk perjalanan, yakni perjalanan di dunia dan perjalanan dari dunia. Perjalanan di dunia memerlukan bekal, seperti harta, makanan, pakaian dan sebagainya. Sedangkan perjalanan dari dunia mencakup mengenal Allah, mencintai Allah, juga berpaling dari selain Allah, atau bisa juga disebut taqwa. Salah satu contoh sikap sebagai bekal perjalanan dari dunia seperti mengikuti pengajian ini. Sehingga untuk menggapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, kita sebagai manusia tidak boleh hanya memperhatikan bekal untuk di dunia saja, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kelak di akhirat.

Kegiatan pengajian bulanan ini berlangsung dengan lancar.  Setelah dilakukan tanya jawab dengan para jamaah, akhirnya  Dr. KH. Abdul Hamid menutup dengan doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *